Pelangi sering muncul setelah hujan ketika sinar Matahari kembali terlihat. Fenomena alam ini menampilkan susunan warna berbentuk busur yang indah, mulai dari merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, hingga ungu.
Di balik keindahannya, pelangi terbentuk melalui proses fisika yang melibatkan cahaya Matahari dan tetesan air di udara. Proses tersebut mencakup pembiasan, penguraian cahaya, serta pemantulan di dalam tetesan air sebelum akhirnya warna-warna pelangi dapat dilihat oleh mata.
Table of Contents
ToggleMengenal Pelangi
Pelangi adalah fenomena optik yang muncul ketika cahaya Matahari berinteraksi dengan tetesan air di udara. Cahaya tersebut mengalami pembiasan, penguraian warna, dan pemantulan hingga terlihat sebagai busur berwarna-warni di langit.
Pelangi biasanya muncul saat hujan mulai reda dan Matahari bersinar dari arah belakang pengamat. Fenomena ini tidak hanya dapat terbentuk oleh air hujan, tetapi juga oleh percikan air terjun, embun, atau semprotan air yang terkena cahaya.
Proses Terjadinya Pelangi Secara Fisika

Pelangi terbentuk ketika cahaya Matahari melewati tetesan air di udara. Dalam prosesnya, cahaya mengalami pembiasan, penguraian warna, pemantulan, lalu pembiasan kembali sebelum akhirnya terlihat oleh mata.
1. Cahaya Matahari Masuk ke Tetesan Air
Cahaya Matahari yang tampak putih sebenarnya terdiri dari berbagai warna. Saat cahaya masuk ke tetesan air, tetesan tersebut bertindak seperti prisma kecil.
2. Terjadi Pembiasan Cahaya
Ketika berpindah dari udara ke air, kecepatan dan arah cahaya berubah. Perubahan arah inilah yang disebut pembiasan.
3. Cahaya Mengalami Dispersi
Setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda, sehingga dibiaskan dengan sudut yang tidak sama. Akibatnya, cahaya putih terurai menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
4. Cahaya Dipantulkan di Dalam Tetesan Air
Setelah terurai, cahaya mengenai bagian belakang tetesan air lalu dipantulkan kembali ke arah depan.
5. Cahaya Keluar dari Tetesan Air
Saat keluar dari tetesan air menuju udara, cahaya kembali mengalami pembiasan. Cahaya yang telah terpisah berdasarkan warna kemudian mencapai mata pengamat dan terlihat sebagai pelangi.
Mengapa Pelangi Memiliki Banyak Warna?
Pelangi memiliki banyak warna karena cahaya Matahari yang tampak putih sebenarnya tersusun dari berbagai warna dengan panjang gelombang berbeda. Ketika cahaya melewati tetesan air, setiap warna dibiaskan dengan sudut yang sedikit berbeda sehingga cahaya putih terurai menjadi spektrum warna.
Urutan warna pelangi dari bagian luar ke bagian dalam adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna merah memiliki panjang gelombang lebih besar sehingga dibelokkan lebih sedikit, sedangkan warna ungu memiliki panjang gelombang lebih pendek dan dibelokkan lebih besar.
Jenis-Jenis Pelangi
Pelangi tidak hanya muncul dalam satu bentuk. Perbedaan jumlah pantulan cahaya, sumber cahaya, ukuran tetesan air, dan posisi pengamat dapat menghasilkan beberapa jenis pelangi berikut.
1. Pelangi Primer
Pelangi primer adalah jenis yang paling umum terlihat. Pelangi ini terbentuk setelah cahaya mengalami satu kali pemantulan di dalam tetesan air. Susunan warnanya dimulai dari merah di bagian luar hingga ungu di bagian dalam.
2. Pelangi Sekunder
Pelangi sekunder muncul di luar pelangi primer dan biasanya terlihat lebih redup. Jenis ini terbentuk karena cahaya mengalami dua kali pemantulan di dalam tetesan air. Urutan warnanya terbalik, yaitu ungu berada di bagian luar dan merah di bagian dalam.
3. Pelangi Ganda
Pelangi ganda terjadi ketika pelangi primer dan sekunder muncul secara bersamaan. Di antara kedua busur tersebut biasanya terdapat area yang tampak lebih gelap karena hanya sedikit cahaya yang diarahkan menuju mata pengamat.
4. Pelangi Bulan
Pelangi bulan atau moonbow terbentuk dari cahaya Bulan yang melewati tetesan air. Karena cahaya Bulan jauh lebih redup daripada cahaya Matahari, warna pelangi bulan biasanya terlihat samar dan kadang tampak putih.
5. Pelangi Kabut
Pelangi kabut terbentuk dari butiran air yang sangat kecil di dalam kabut. Ukuran tetesan yang kecil membuat warna-warnanya sulit terpisah dengan jelas, sehingga pelangi ini sering terlihat pucat atau hampir putih.
Apakah Pelangi Hanya Muncul Setelah Hujan?

Pelangi tidak hanya muncul setelah hujan. Fenomena ini dapat terbentuk selama terdapat cahaya yang cukup terang dan butiran air di udara. Karena itu, pelangi juga bisa terlihat di sekitar air terjun, pancuran, embun, kabut tipis, ombak laut, atau semprotan air yang terkena sinar Matahari.
Anda bahkan dapat membuat pelangi buatan sendiri dengan menyemprotkan air menggunakan selang pada pagi atau sore hari. Berdirilah dengan posisi Matahari di belakang tubuh, lalu arahkan semprotan air ke depan hingga terbentuk kabut halus. Jika sudut cahaya dan posisi pengamatan tepat, warna-warna pelangi akan terlihat pada butiran air tersebut.
Fakta Menarik tentang Pelangi
Selain indah, pelangi juga memiliki sejumlah fakta menarik yang berkaitan dengan cahaya, posisi pengamat, dan bentuk aslinya. Berikut beberapa di antaranya:
- Pelangi sebenarnya berbentuk lingkaran penuh. Dari permukaan tanah, bagian bawah lingkaran biasanya tertutup oleh horizon sehingga pelangi terlihat seperti busur.
- Setiap orang melihat pelangi yang sedikit berbeda. Posisi mata setiap pengamat tidak sama, sehingga tetesan air yang memantulkan cahaya ke arah mata juga berbeda.
- Pelangi tidak memiliki lokasi yang tetap. Anda tidak dapat benar-benar mendekati ujung pelangi karena posisinya selalu bergantung pada sudut antara cahaya, tetesan air, dan pengamat.
- Pelangi dapat muncul tanpa hujan. Air terjun, kabut, ombak, embun, dan semprotan air juga dapat menghasilkan pelangi.
- Pelangi sekunder memiliki urutan warna terbalik. Hal ini terjadi karena cahaya mengalami dua kali pemantulan di dalam tetesan air.
- Warna pelangi sebenarnya membentuk spektrum yang berkelanjutan. Pembagian menjadi tujuh warna hanya membantu manusia mengenali susunannya dengan lebih mudah.
- Pelangi lebih mudah terlihat saat Matahari berada rendah. Karena itu, pelangi sering tampak jelas pada pagi atau sore hari.
- Pelangi dapat dibuat secara sederhana. Semprotan air, prisma, atau gelas berisi air dapat digunakan untuk menunjukkan proses penguraian cahaya.
Pelangi terbentuk melalui proses fisika yang melibatkan pembiasan, dispersi, pemantulan, dan pembiasan kembali ketika cahaya melewati tetesan air. Proses inilah yang membuat cahaya putih terurai menjadi berbagai warna dan terlihat sebagai busur indah di langit.
Fenomena pelangi juga tidak hanya muncul setelah hujan, tetapi dapat terlihat di sekitar air terjun, kabut, ombak, pancuran, maupun semprotan air. Dengan memahami proses terjadinya, Anda dapat melihat bahwa pelangi bukan sekadar pemandangan indah, tetapi juga contoh nyata bagaimana konsep cahaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari.





